JAKARTA - Malang bukan hanya kota dengan udara sejuk dan lanskap wisata menawan. Di balik pesona alam dan sejarahnya, kota ini menyimpan ragam kuliner legendaris yang selalu meninggalkan kesan mendalam.
Wisata kuliner di Malang bukan sekadar untuk mengenyangkan perut. Setiap hidangan menghadirkan cerita panjang, tradisi turun-temurun, dan rasa konsisten yang diwariskan generasi ke generasi.
Tak heran jika banyak warung dan depot di Malang tetap bertahan puluhan hingga lebih dari seratus tahun. Keistimewaan itu membuat wisata kuliner di kota ini selalu dirindukan para pelancong.
Dari rawon pekat hingga jajanan manis tradisional, setiap menu memiliki ciri khas tersendiri. Berikut ini deretan kuliner Malang yang wajib dicoba, dilansir dari Google Maps.
Rawon dan Soto: Hidangan Legendaris yang Konsisten
Rawon Nguling menjadi ikon kuliner Jawa Timur yang mendunia. Kuah hitam pekatnya, aroma kluwek yang kuat, serta daging sapi empuk membuat rawon ini dijuluki standar emas rasa rawon.
Disajikan dengan sambal, tauge pendek, dan telur asin, rasanya tetap konsisten sejak dulu. Siapa pun yang mencicipi Rawon Nguling hampir pasti ingin kembali lagi.
Soto Ayam Lombok berdiri sejak 1955 dan membuktikan bahwa kesederhanaan bisa bertahan lama. Kuahnya bening kekuningan, ringan namun gurih, dengan isian ayam suwir, telur, dan koya yang pas di lidah.
Letaknya strategis di pusat kota, sehingga selalu ramai saat jam makan siang. Soto Ayam Lombok sering menjadi menu pembuka bagi wisatawan yang baru tiba di Malang.
Soto Gunung Mbah Djie dikenal dengan porsi besar dan rasa konsisten. Isian daging melimpah, kuah gurih, serta suasana sederhana membuat warung ini diminati pelanggan setia dari generasi ke generasi.
Banyak pelanggan yang datang sejak muda kini membawa anak dan cucu mereka ke tempat yang sama. Kesederhanaan dan kejujuran rasa menjadikan Soto Gunung Mbah Djie sebagai salah satu warung legendaris Malang.
Jajanan Tradisional: Manis, Hangat, dan Nostalgia
Pos Ketan Legenda 1967 di Batu menjadi ikon jajanan malam yang hangat dan mengenyangkan. Ketan pulen disajikan dengan topping kelapa parut, keju, atau cokelat yang berpadu dengan udara dingin Batu.
Sensasi hangat dan manis membuat tempat ini menjadi penutup sempurna setelah seharian berkeliling Malang Raya. Tradisi menyantap ketan hangat sejak lama tetap bertahan hingga kini.
Puthu Lanang menghadirkan nostalgia lewat aroma pandan, gula merah cair, dan uap bambu. Penyajian sederhana tanpa kemasan modern justru memperkuat karakter kuliner tradisional Malang.
Kue putu ini bukan sekadar makanan, tetapi memori kolektif warga Malang. Rasanya tetap dicari banyak orang karena menghadirkan pengalaman autentik dari masa ke masa.
Sego Goreng Resek Pak Man menyajikan nasi goreng kaki lima dengan rasa gurih dan smoky khas. Tampilan “berantakan” justru menunjukkan kejujuran rasa dan keaslian kuliner malam Malang.
Bagi pemburu kuliner malam, Sego Goreng Resek adalah pilihan utama untuk merasakan cita rasa autentik tanpa banyak hiasan. Kejujuran dan karakter menu membuatnya tetap dicintai pelanggan lama maupun baru.
Sate, Rujak, dan Menu Ikonik Lainnya
Rujak Cingur Bu Dhe Ruk terkenal dengan sambal petis kental dan perpaduan cingur, sayuran, dan buah yang medok rasa. Hidangan ini dianggap salah satu rujak cingur paling autentik di Malang.
Warung Sate Gebug 1920 menjadi saksi sejarah kuliner Malang. Daging sapi dipukul hingga empuk, dibakar perlahan, tanpa banyak bumbu menutupi rasa dagingnya, membuat cita rasanya asli dan konsisten.
Depot Tahu Lontong Lonceng menghadirkan tahu lembut dan lontong berpadu dengan saus kacang gurih manis. Menu sederhana ini bertahan lama karena kejujuran rasa dan kesederhanaan penyajiannya.
Rawon Brintik Miniasih menawarkan kuah rawon lebih ringan namun tetap kaya rasa. Dengan lauk pendamping beragam, tempat ini cocok bagi penikmat rawon yang ingin sensasi gurih tanpa terlalu berat.
Kuliner legendaris Malang selalu dicari bukan hanya karena enak. Konsistensi rasa, kesederhanaan bumbu, dan cerita dari generasi ke generasi menjadikan setiap pengalaman makan lebih bermakna.
Setiap tempat menyimpan sejarah dan tradisi yang menjadikan pengalaman kuliner berbeda dari sekadar makan. Dari rawon hingga jajanan tradisional, kuliner Malang menghadirkan karakter dan budaya yang melekat kuat.
Wisata kuliner di Malang adalah perjalanan rasa sekaligus pelajaran budaya. Menikmati hidangan legendaris berarti menyelami cerita dan tradisi yang dijaga puluhan tahun.
Dengan daftar kuliner ini, setiap wisatawan bisa merasakan otentisitas Malang dari dapurnya. Setiap suapan menghadirkan pengalaman rasa, nostalgia, dan kenangan yang sulit terlupakan.
Malang membuktikan bahwa makanan sederhana bisa menjadi simbol budaya. Kuliner legendaris di sini bukan sekadar mengenyangkan, tetapi juga menyampaikan sejarah dan tradisi masyarakatnya.